Arsip
-
MEDICINUS Vol. 39 No. 6 (2026)
Tema utama yang diangkat kali ini adalah “Patofisiologi dan Tata Laksana Kardiotoksisitas yang Diinduksi Kemoterapi”. Menurut European Society of Cardiology (ESC), kardiotoksisitas didefinisikan sebagai kerusakan fungsi maupun struktur organ jantung yang berhubungan dengan paparan obat, terutama terapi antikanker seperti kemoterapi dan radioterapi, maupun akibat dari kanker itu sendiri. Secara umum,...
Baca SelengkapnyaTema utama yang diangkat kali ini adalah “Patofisiologi dan Tata Laksana Kardiotoksisitas yang Diinduksi Kemoterapi”. Menurut European Society of Cardiology (ESC), kardiotoksisitas didefinisikan sebagai kerusakan fungsi maupun struktur organ jantung yang berhubungan dengan paparan obat, terutama terapi antikanker seperti kemoterapi dan radioterapi, maupun akibat dari kanker itu sendiri. Secara umum, kardiotoksisitas yang diinduksi kemoterapi diklasifikasikan ke dalam lima jenis, dengan dua tipe utama yang paling sering dikaitkan dengan terapi antineoplastik berisiko tinggi, yaitu tipe I (irreversibel, misalnya akibat antrasiklin) dan tipe II (reversibel, misalnya akibat trastuzumab). Mekanisme kardiotoksisitas yang diinduksi kemoterapi dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan faktor yang berperan antara lain: dosis kumulatif, cara pemberian obat, formulasi obat, serta metode pemberian obat. Penatalaksanaan kardiotoksisitas bergantung pada jenis gangguan kardiovaskular yang dialami oleh pasien. Pasien dengan banyak faktor risiko kardiovaskular yang tidak terkontrol, atau yang sudah memiliki penyakit jantung sebelumnya, risiko kardiotoksisitas akibat kemoterapi meningkat signifikan. Selain itu, rubrik Perspective pada edisi Juni ini mengenai “Jantung yang Tidak Tahu Sedang Diobati: Kardiotoksisitas Anthracycline dan Urgensi Kardio-Onkologi”. Pada rubrik Case Report diwarnai dengan artikel "Management of a Giant Ovarian Mucinous Cyst in Late Pregnancy: A Combined Surgical Approach", "Laporan Kasus Hepatopulmonary Syndrome (HPS) pada Pasien Sirosis Hepatis dengan Penyulit Melena Akut dan Orthodeoxia" dan "Diagnostic Challenges in Tuberculous Spondylitis in a Young Adult without Overt Immunodeficiency: A Case Report" serta “Gangguan Metabolik pada Sindrom Ovarium Polikistik Nonklasik: Sebuah Laporan Kasus”.
-
MEDICINUS Vol. 39 No. 5 (2026)
Tema utama kali ini mengangkat tajuk “Insulin Resistance and Ovulatory Dysfunction in Polycystic Ovary Syndrome: A Study Using the Muharam Criteria at RSUD Banten”. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan penyebab umum infertilitas anovulasi. Dalam hal ini, resistansi insulin (RI) memainkan peran kunci dalam patofisiologi SOPK karena berkontribusi...
Baca SelengkapnyaTema utama kali ini mengangkat tajuk “Insulin Resistance and Ovulatory Dysfunction in Polycystic Ovary Syndrome: A Study Using the Muharam Criteria at RSUD Banten”. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan penyebab umum infertilitas anovulasi. Dalam hal ini, resistansi insulin (RI) memainkan peran kunci dalam patofisiologi SOPK karena berkontribusi langsung terhadap hiperandrogenisme serta disfungsi folikel. Kriteria Muharam, yang didefinisikan sebagai rasio glukosa plasma puasa terhadap kadar insulin puasa, merupakan metode sederhana dan praktis untuk menilai RI, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat menganalisis korelasi antara RI, yang diukur menggunakan nilai kriteria Muharam, terhadap disfungsi ovulasi pada pasien SOPK di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten. Artikel lain yang turut mewarnai edisi kelima pada tahun kuda api ini adalah Perspektif mengenai “Resistensi Insulin sebagai Poros Disfungsi Ovulasi pada PCOS”, rubrik Research dengan artikel yang berjudul “Faktor yang Berhubungan dengan Penyebab Admisi dan Kematian Pasien SLE di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar”, tiga artikel pada rubrik Case Report yaitu “Tumor Lysis Syndrome Induced by the R-ICE Regimen in a Patient with Non-Hodgkin Lymphoma: A Case Report", "Abses Tiroid pada Pasien dengan Infeksi HIV: Laporan Kasus" dan "Pendekatan Diagnosis pada Pasien dengan Primary Sclerosing Cholangitis (PSC): Sebuah Laporan Kasus”, serta artikel Medical Review “Pentingnya Deteksi Dini Hiperamonemia Transien pada Bayi Baru Lahir (Transient Hyperaammonemia of the Newborn/THAN)”.
-
MEDICINUS Vol. 39 No. 4 (2026)
“Kurang Tidur dan Regulasi Nafsu Makan: Tinjauan Mekanisme Hormonal dan Metabolik ” didaulat menjadi tema utama pada edisi online ke-4 di tahun Kuda Api ini. Kurang tidur telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin sering dijumpai di era modern. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fungsi kognitif dan kualitas hidup, tetapi juga berhubungan erat dengan regulasi nafsu makan dan...
Baca Selengkapnya“Kurang Tidur dan Regulasi Nafsu Makan: Tinjauan Mekanisme Hormonal dan Metabolik ” didaulat menjadi tema utama pada edisi online ke-4 di tahun Kuda Api ini. Kurang tidur telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin sering dijumpai di era modern. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fungsi kognitif dan kualitas hidup, tetapi juga berhubungan erat dengan regulasi nafsu makan dan metabolisme. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa deprivasi tidur memicu perubahan hormonal, termasuk peningkatan grelin, penurunan leptin, serta gangguan keseimbangan hormon lain yang berperan dalam regulasi rasa lapar dan kenyang. Dampak fisiologis ini mendorong peningkatan asupan energi, terutama dari makanan tinggi kalori, serta memperlemah kontrol kognitif terhadap dorongan makan. Selain itu, kurang tidur terbukti menurunkan sensitivitas insulin, meningkatkan resistansi insulin, serta mengganggu homeostasis glukosa, sehingga berkontribusi pada risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta sindrom metabolik.
-
MEDICINUS Vol. 39 No. 3 (2026)
Secara umum, tonsilofaringitis kronis ditandai dengan gejala demam, sakit tenggorokan dan pembengkakan berulang pada tonsil. Namun, pada beberapa kasus, tonsilofaringitis dengan eksaserbasi akut juga menunjukkan gejala atipikal, yaitu disfagia atau kesulitan menelan, di mana proses memindahkan makanan/minuman dari organ mulut menuju ke lambung membutuhkan usaha ekstra, bahkan terkadang disertai dengan rasa nyeri....
Baca SelengkapnyaSecara umum, tonsilofaringitis kronis ditandai dengan gejala demam, sakit tenggorokan dan pembengkakan berulang pada tonsil. Namun, pada beberapa kasus, tonsilofaringitis dengan eksaserbasi akut juga menunjukkan gejala atipikal, yaitu disfagia atau kesulitan menelan, di mana proses memindahkan makanan/minuman dari organ mulut menuju ke lambung membutuhkan usaha ekstra, bahkan terkadang disertai dengan rasa nyeri. Disfagia bekepanjangan akan sangat memengaruhi kualitas hidup pasien. Gambaran tersebut disajikan dalam bentuk artikel laporan kasus yang menjadi tema utama Medicinus pada edisi ke-3 di tahun kuda api ini dengan tajuk “Dysphagia as the Predominant Symptom in Chronic Tonsillopharyngitis with Acute Exacerbation: A Case Report”.
Sejalan dengan tema utama, rubrik Perspective juga mengetengahkan seputar “Disfagia dalam Perspektif Klinis Kontemporer”. Artikel lain yang turut mewarnai edisi Maret ini adalah “Hubungan antara Asam Traneksamat dan Insiden Kejang pada Pasien dengan Perdarahan Subarakhnoid” yang menghuni rubrik Research, serta 4 artikel pada rubrik Case Report yakni “Progressive Supranuclear Palsy - Parkinsonism Predominant (PSP-P): A Case Report”, “Potensi Patogenik Infeksi Entamoeba coli dengan Komplikasi Syok Sepsis: Sebuah Laporan Kasus Atipikal”, "’Steakhouse Syndrome’ pada Pasien Dewasa di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar” dan “Comprehensive Approach to Acute Pulmonary Embolism in a Patient with History of Cervical Cancer: Clinical Challenges and Therapeutic Strategies”.
-
MEDICINUS Vol. 39 No. 2 (2026)
Kelompok lanjut usia (lansia) kerap dikaitkan dengan kerentanan terhadap suatu gangguan atau penyakit. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kerentanan kelompok usia ini terhadap serangan ansietas dan depresi, di mana penyebabnya ditengarai karena penurunan kadar serum vitamin D. Berangkat dari fenomena tersebut, Medicinus edisi kedua di tahun Kuda Api ini, mengangkat tema utama tentang “Relationship between Serum...
Baca SelengkapnyaKelompok lanjut usia (lansia) kerap dikaitkan dengan kerentanan terhadap suatu gangguan atau penyakit. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kerentanan kelompok usia ini terhadap serangan ansietas dan depresi, di mana penyebabnya ditengarai karena penurunan kadar serum vitamin D. Berangkat dari fenomena tersebut, Medicinus edisi kedua di tahun Kuda Api ini, mengangkat tema utama tentang “Relationship between Serum Vitamin D Levels and Anxiety Severity in Elderly Patients at the Internal Medicine and Psychiatry Clinic of RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar”. Artikel ini mengetengahkan penelitian mengenai hubungan antara kadar serum vitamin D terhadap derajat keparahan ansietas pada pasien kategori lanjut usia.
Selain itu, rubrik Perspective pada edisi Februari ini mengenai “Ansietas pada Lansia: Prevalensi, Faktor Penanda, dan Penanganannya”. Pada rubrik Research, diwarnai artikel “Hubungan antara Status Gizi dan Kejadian Dislipidemia pada Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah”. Artikel-artikel lainnya yang tidak kalah menarik untuk dibaca adalah “Dermatitis Kontak Alergi Akibat Plester Penutup Luka: Sebuah Laporan kasus Jarang dan Tinjauan Literatur”, “Peran Mannitol dalam Penanganan Peningkatan Tekanan Intrakranial pada Stroke Nonhemoragik dengan Penyakit Jantung Bawaan: Laporan Kasus”, “Hepatic Encephalopathy in a Postpartum Patient with Chronic Hepatitis B: A Case Report” dan “A Rare Case of Eisenmenger Syndrome Complicated by Dengue Hemorrhagic Fever” yang menghuni rubrik Case Report, serta artikel review yang berjudul “Preeclampsia in the Modern Era: New Insights from Global Research and Implications for Practice in Indonesia”.
-
MEDICINUS Vol. 39 No. 1 (2026)
Tema utama edisi online kali ini adalah mengenai “Obesity as a Risk Factor of Cancer”. Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas masih menjadi masalah kesehatan serius, mengingat prevalensi yang terus meningkat secara global.Kondisi ini pun sangat erat kaitannya dengan penyakit lain seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kanker. Obesitas didefinisikan sebagai...
Baca SelengkapnyaTema utama edisi online kali ini adalah mengenai “Obesity as a Risk Factor of Cancer”. Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas masih menjadi masalah kesehatan serius, mengingat prevalensi yang terus meningkat secara global.Kondisi ini pun sangat erat kaitannya dengan penyakit lain seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kanker. Obesitas didefinisikan sebagai penumpukan lemak tubuh abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Meskipun obesitas tidak dianggap sebagai faktor risiko utama penyakit kanker, namun masih berkorelasi dengan beberapa jenis kanker. Salah satu mekanisme utama yang mendasari hubungan antara obesitas dan kanker adalah inflamasi kronis yang memperantarai perkembangan sel kanker, terutama dengan menginduksi perubahan pada lingkungan mikro tumor dan mendorong pembentukan fenotipe kanker (tumorigenesis). Faktor-faktor lain yang menjelaskan hubungan antara obesitas dan kanker secara umum juga akan dijelaskan dalam tinjauan literatur ini. Artikel lain yang turut mewarnai edisi perdana pada tahun kuda api ini adalah Perspektif mengenai “Rekonseptualisasi Faktor Risiko dalam Kedokteran 2025”, rubrik Research “The Association between Thyroid Function with Bone Mineral Density in Hyperthyroid Patients at The Diabetic Center Clinic of RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar”, tiga artikel Case Report yaitu “Progressive Left Diaphragmatic Eventration Manifesting as Respiratory Failure in an Elderly Patient with Chronic Obstructive Pulmonary Disease: A Case Report”, “Late Diagnosis of Biliary Atresia in an Infant—A Call for Early Cholestasis Screening and Timely Referral” dan “Triple-Threat Pregnancy: Navigating PPCM, Preeclampsia and Thalassemia Major- A Holistic Reproductive Risk Assessment Post-Cesarean Delivery”, serta artikel Medical Review “Nanobubbles for Precision Oncology”.