Progressive Supranuclear Palsy–Parkinsonism Predominant (PSP-P): A Case Report

Penulis

  • Ida Bagus Oka Garbhajana Sirinatha Department of Neurology, Faculty of Medicine, Udayana University/RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali, Indonesia
  • D.P.G. Purwa Samatra Department of Neurology, Faculty of Medicine, Udayana University/RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali, Indonesia
  • Sri Yenni Trisnawati Department of Neurology, Faculty of Medicine, Udayana University/RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.56951/25yggq62

Kata Kunci:

progressive supranuclear palsy (PSP), parkinsonisme atipikal, bradikinesia, ketidakstabilan postural, vertical gaze palsy

Abstrak

Latar belakang: Progressive supranuclear palsy (PSP) merupakan bentuk paling umum dari parkinsonisme atipikal, dengan manifestasi klinis yang menyerupai penyakit Parkinson. Insidensi global PSP diperkirakan sekitar 0,005% dari
populasi dunia, dan sekitar 5% di antaranya menunjukkan tanda atau gejala parkinsonisme. PSP merupakan gangguan neurodegeneratif yang kompleks dengan manifestasi klinis yang beragam, sehingga sering menyebabkan keterlambatan
diagnosis. Gejala utama meliputi ketidakstabilan postural dini, gangguan gerakan sirkadik vertikal, dan vertical gaze palsy. Meskipun belum tersedia terapi kuratif, diagnosis dini dan akurat sangat penting untuk mengoptimalkan penatalaksanaan
simtomatik. Kasus: Seorang pasien wanita berusia 47 tahun datang ke klinik neurologi dengan keluhan kaku di hampir seluruh tubuhnya. Gejala tersebut dilaporkan muncul tiba-tiba 2 tahun yang lalu dan memburuk dalam 3 bulan terakhir.
Pasien juga mengeluh gerakannya melambat. Pemeriksaan neurologis menunjukkan bradikinesia, ketidakstabilan postural, nistagmus bidireksional, dan penurunan fungsi kognitif. Pasien didiagnosis progressive supranuclear palsy.
Pasien diterapi dengan levodopa/carbidopa/entacapone (Stalevo®) 1 tablet setiap 12 jam dan pramipexole 0,375 mg
setiap 24 jam peroral. Kesimpulan: Telah dilaporkan kasus seorang wanita berusia 47 tahun dengan PSP-P. Berdasarkan perbandingan kasus ini dengan literatur, kasus yang dilaporkan sesuai dengan PSP-P.

Referensi

1. Batheja V, Fish M, Balar AB, Hogg JP, Lakhani DA, Khan M. Progressive supranuclear palsy: a case report and brief review of the literature. Radiol Case Rep. 2023;19(1):250–3. doi: 10.1016/j.radcr.2023.09.012.

2. Rowe JB, Holland N, Rittman T. Progressive supranuclear palsy: diagnosis and management. Pract Neurol. 2021;21(5):376–83. doi: 10.1136/practneurol-2020-002794.

3. Coughlin DG, Litvan I. Progressive supranuclear palsy: advances in diagnosis and management. Parkinsonism Relat Disord. 2020;73:105–16. doi: 10.1016/j.parkreldis.2020.04.014.

4. Alster P, Madetko N, Koziorowski D, Friedman A. Progressive supranuclear palsy–parkinsonism predominant (PSP-P): a clinical challenge at the boundaries of PSP and Parkinson’s disease (PD). Front Neurol. 2020;11:180. doi: 10.3389/fneur.2020.00180.

5. Shetty A, Krishnaprasad KM. Progressive supranuclear palsy - a mirror image of Parkinson’s disease, a literature review of rehabilitation strategies. Journal of Pharmaceutical Research International 2021:33(57A):449–58. doi:10.9734/jpri/2021/v33i57A34018.

Diterbitkan

02-03-2026

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Cara Mengutip

[1]
Progressive Supranuclear Palsy–Parkinsonism Predominant (PSP-P): A Case Report. MEDICINUS 2026;39:14-9. https://doi.org/10.56951/25yggq62.