Perubahan Kadar Albumin Serum selama Pemberian Inbumin Forte pada Pasien Hipertensi Portal dengan dan tanpa Sirosis Hati: Serial Kasus
DOI:
https://doi.org/10.56951/h6q22q70Kata Kunci:
Channa striata, Striatin, hipoalbuminemia, hipertensi portal, sirosis hati, suplementasi nutrisiAbstrak
Latar belakang: Hipoalbuminemia sering dijumpai pada pasien dengan penyakit hati kronis dan hipertensi portal akibat penurunan sintesis albumin di hati, dilusi, serta kehilangan protein. Pemberian albumin intravena merupakan terapi yang efektif untuk indikasi tertentu, namun keterbatasan ketersediaan dan biaya yang tinggi dapat membatasi penggunaannya dalam praktik klinis. Inbumin Forte mengandung kombinasi Striatin 5 g dan Curmicin 250 mg per stick pack. Striatin merupakan fraksi protein dari ikan gabus (Channa striata) yang telah dikembangkan di Indonesia sebagai suplemen protein oral. Curmicin merupakan ekstrak yang berasal dari Curcuma domestica rhizome. Studi praklinik dengan model luka pada hewan menunjukkan bahwa pemberian Striatin dapat membantu memperbaiki kadar albumin serum dengan lebih cepat. Namun belum terdapat studi yang mengevaluasi pemberian Striatin pada pasien yang mengalami hipoalbuminemia akibat penyakit hati kronis. Presentasi kasus: Kami melaporkan dua pasien laki-laki dengan hipertensi portal dan hipoalbuminemia yang mendapatkan Inbumin Forte dengan dosis 2 × 5 g/hari sebagai terapi tambahan selama menjalani rawat inap. Pasien 1, seorang pria berusia 55 tahun dengan dugaan hipertensi portal nonsirosis, datang dengan keluhan adanya perdarahan saluran cerna, varises esofagus, gastropati hipertensi portal, dan ulkus gaster. Kadar albumin serumnya meningkat dari 2,8 g/dl menjadi 3,3 g/dl dalam waktu 6 hari. Pasien 2, seorang pria berusia 41 tahun dengan sirosis hati dekompensata akibat hepatitis B kronis (skor Child-Pugh C; MELD 18), disertai perdarahan varises dan asites masif. Kadar albumin serumnya meningkat dari 2,5 g/dl menjadi 2,6 g/dl dalam waktu 7 hari dengan disertai parasentesis sejumlah 3 liter dan pemberian albumin intravena sebanyak 20 g. Tidak ditemukan efek samping gastrointestinal maupun reaksi alergi terkait terapi tambahan tersebut. Kesimpulan: Kenaikan kadar albumin serum selama pemberian terapi fraksi protein bioaktif Striatin menunjukkan perbedaan antara kedua kasus. Perbedaan ini mungkin menggambarkan adanya variasi pada cadangan fungsi sintesis hati. Walaupun demikian, perubahan kadar albumin serum dalam waktu singkat juga dapat dipengaruhi oleh pemulihan fase akut, status cairan, dan terapi penyerta, sehingga hubungan sebab akibat tidak dapat disimpulkan. Suplementasi albumin oral dapat diposisikan sebagai pelengkap dukungan nutrisi, bukan sebagai pengganti albumin intravena. Diperlukan uji klinik terkontrol untuk menilai lebih lanjut terkait manfaatnya.
Unduhan
Referensi
1. Bernardi M, Angeli P, Clària J, Moreau R, Ginès P, Jalan R, et al. Albumin in decompensated cirrhosis: new concepts and perspectives. Gut. 2020;69(6):1127–38. doi:10.1136/gutjnl-2019-318843.
2. European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines for the management of patients with decompensated cirrhosis. J Hepatol. 2018;69(2):406–60. doi:10.1016/j.jhep.2018.03.024.
3. Khanna R, Sarin SK. Non-cirrhotic portal hypertension - diagnosis and management. J Hepatol. 2014;60(2):421–41. doi:10.1016/j.jhep.2013.08.013.
4. European Association for the Study of the Liver. EASL clinical practice guidelines on nutrition in chronic liver disease. J Hepatol. 2019;70(1):172–93. doi:10.1016/j.jhep.2018.06.024.
5. Mustafa A, Widodo MA, Kristianto Y. Albumin and zinc content of snakehead fish (Channa striata) extract and its role in health. IEESE Int J Sci Technol. 2012;1(2):1–8.
6. Hapsari R, Tjandrawinata RR. Nutritional composition and action mechanism of Channa striata meat in wound healing: a systematic review. Narra J. 2025;5(3):e2903. doi:10.52225/narra.v5i3.2903.
7. Rahayu P, Marcelline F, Sulistyaningrum E, Suhartono MT, Tjandrawinata RR. Potential effect of Striatin (DLBS0333), a bioactive protein fraction isolated from Channa striata for wound treatment. Asian Pac J Trop Biomed. 2016;6(12):1001–7. doi:10.1016/j.apjtb.2016.10.008.
8. Riley DS, Barber MS, Kienle GS, et al. CARE guidelines for case reports: explanation and elaboration document. J Clin Epidemiol. 2017;89:218–35. doi:10.1016/j.jclinepi.2017.04.026.
9. Levitt DG, Levitt MD. Human serum albumin homeostasis: a new look at the roles of synthesis, catabolism, renal and gastrointestinal excretion, and the clinical value of serum albumin measurements. Int J Gen Med. 2016;9:229–55. doi: 10.2147/IJGM.S102819.
Unduhan
Terbitan
Bagian
Diterbitkan
Unduhan
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Lingga Gumelar, Anton Purnomo, Suyata

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.